in bisot eyes

banyakan sih arsip-arsip yang mendukung kerjaan gue

Catatan kecil untuk Bandara Eltari Kupang (sebuah dumelan)

Posted by bisot pada Juli 10, 2009

Bandara eltari kupang

Bandara eltari kupang

Bandara ELTARI Kupang (KOE) semakin sibuk aktifitasnya dengan bertambahnya beberapa Maskapai penerbangan yang mengembangkan usahanya dengan tujuan Kupang. Sebut saja Pelita Air dan Garuda. Bandara Eltari sebelumnya sudah menjadi tujuan hampir seluruh Maskapai penerbangan nusantara seperti Merpati, Lion Air, Batavia, Sriwijaya, Mandala, Transnusa dan Riau Airlines.

Bertambahnya arus maskapai penerbangan ini berbanding lurus dengan peningkatan aktifitas, pertambahan penumpang dan bersaingnya harga tiket. Namun sayang tidak berbanding lurus dengan pelayanan, infrastruktur, tata letak dan pengamanannya.

Sebagai Bandara yang terletak di Ibukota Propinsi maka Bandara Eltari adalah pintu masuk utama dari propinsi lain. Seperti beranda rumah sebelum kita memasuki sebuah rumah. Tidak seharusnya kita membandingkan Bandara Eltari dengan Bandara-bandara di Kabupaten NTT seperti Bandara di Waingapu, Tambolaka, Ende ataupun Maumere.
Namun mari kita bandingkan dengan Bandara Waioti di Maumere, Bandara kecil yang hanya dapat disinggahi kapal-kapal kecil atau maksimal dengan Foker 100 milik Merpati.

Sebagai penumpang setelah check in tiket ke loket untuk mengambil Boarding pass atau menyerahkan barang bagasi kita akan di arahkan ke loket PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara Dalam Negeri) atau yang sering disebut Airport Tax yang besarannya ditentukan oleh Kep. Direksi Angkasa Pura sebagai Perusahaan Pengelola Bandara Nasional. Setelah membayar kita akan menuju ruang tunggu atau Gate, tentunya setelah melewati pemeriksaan oleh satuan pengaman bandara.
Yang saya dapati, letak loket pembayaran Airpot Tax di Bandara kecil Waioti Maumere ini searah atau satu jalur dengan arah saya menuju ruang tunggu penumpang ataupun gate. Seingat saya hampir semua bandara seperti ini. Mungkin sudah diatur dalam Peraturan tentang kebandar udaraan atau apalah yg mengatur sedemikian rupa demi kenyamanan penumpang. Namun silahkan Anda mencoba terbang melalui Bandara Eltari Kupang, Anda akan mendapati loket pembayaran Airport Tax bersebrangan atau tidak searah bahkan berlawanan arah dengan pintu ke ruang tunggu/gate. Loket yang disediakanpun hanya dua loket dengan dua petugas yang melayani, sehingga pada jam-jam sibuk Anda akan mendapatkan 3 antrian di terminal keberangkatan Bandara Eltari, 1 antrian penumpang yang check in di loket untuk mengambil boarding pass dan timbangan bagasi, kemudian di sebelah kanan antrian penumpang yang akan membayar Airport Tax dan di sebelah kiri Antrian penumpang yg menunggu giliran untuk melewati pemeriksaan menuju ruang tunggu penumpang/gate. Kondisi ini akan semakin parah saat pagi flight pertama dan kedua dimana beberapa maskapai berangkat dengan selisih waktu tidak terlalu lama, bahkan nyaris bersamaan seandainya memungkinkan untuk itu.

Saya tidak memahami kondisi keamanan di Bandara Eltari, namun sejak dari awal akan masuk bandara hingga tangga naik pesawat akan kita temui personil keamanan yang dapat kita kenali dari seragamnya masing-masing, saya senang saja pengamanan di sana seakan menjadi high priority, namun dengan banyaknya personil keamanan dari banyak satuan seperti itu justru membuat saya bertanya, apakah memang tugas mereka mengamankan Bandara? yang saya lihat mereka hanya memperhatikan penumpang satu persatu dan kemudian menanyakan hal-hal yang sepele hampir kepada setiap penumpang yang tampak kebingungan.

Saya pernah tanpa sengaja terlambat check in dan berhadapan dengan petugas keamanan dari satuan yang setahu saya bukanlah bidang tugasnya mengatur penumpang yang terlambat. Saya menyesal telah bertanya pada beliau karena beliau tidak memberikan solusi sama sekali, dengan hati kecewa sayapun paham, mereka tidak berwenang apa-apa atas keterlambatan saya. Setelah membentak saya untuk pulang karena terlambat check in sayapun tidak memperdulikannya. Kepada petugas loket yang tidak melayani saya karena check in sudah ditutup saya tetap berusaha berkomunikasi dengan baik dan mencoba mencari informasi untuk bertemu dengan petugas yang lebih berwenang dari maskapai tersebut hingga akhirnya saya diarahkan untuk menemui seorang field manager atau apalah yang menjelaskan bahwa saya akan dikenakan charge untuk dapat terbang pada flight berikutnya esok hari. Namun dengan keterbatasan waktu saya memohon dengan sangat untuk mengecek apakah pesawat sudah siap landas atau masih dalam proses persiapan.
Beliau kemudian mungkin menghubungi petugas bagian ground handling dan akhirnya memberi saya waktu tidak kurang dari 3 menit untuk naik pesawat. Untuk mengejar waktu 3 menit itu saya segera melakukan check in dan mengambil boarding pass, kemudian saya menuju gate, namun sayang karena saya lupa membayar airport tax sehingga saya tidak dijinkan masuk ke gate, tanpa basa-basi saya berlari lagi kearah loket airport tax dan memotong barisan antrian di loket pembayaran, namun apa daya, petugas loket melihat saya meotong antrian sehingga tidak mau melayani saya walaupun sudah saya jelaskan bahwa saya terlambat sehingga mohon bantuan agar dapat memotong antrian. Hingga datang petugas loket boarding dari maskapai penerbangan yang membantu saya bicara barulah beliau mau menerima uang saya dan memberikan kupon airport tax seharga Rp. 20.000,- itu. Nona yang bertugas diloket check in dari Maskapai itupun menjelaskan kepada saya, “Bapak seharusnya membayar uang lebih sehingga nanti kembalinya untuk Tips mereka karena bapak sudah memotong antrian” mendengar itu saya hanya tersenyum tanpa komentar. Setelah melewati pemeriksaan saya berlari menuju apron ke arah petugas maskapai yang telah menunggu saya. Namun setelah sampai di luar ruang tunggu ternyata pintu pesawat sudah tertutup, saya dapa melihat pintu pesawat yg msh bergerak menutup, saya terlambat 20 detik dari waktu 3 menit yang diberikan gara-gara penunggu loket airport tax gerutu saya dalam hati. Dengan membayangkan harus membayar lagi charge sebesar 50% dari harga tiket dan berangkat esok harinya saya sudah tidak dapat berfikir jernih, saya hanya berharap ada penerbangan dari maskapai lain yang akan berangkat tidak lama lagi. Belum sampai saya kembali masuk di ruang tunggu petugas maskapai yang menemani saya berkata “Mas, cepat kembali, pintu pesawatnya dibuka”. Tanpa ragu saya berlari menuju pesawat, di dekat pesawat saya bertemu lagi petugas keamanan yang tadi menyuruh saya pulang di loket check in. Gak perduli lagi saya pun langsung menaiki tangga dan masuk kepesawat.

Mungkin ceritanya akan lain jika yang mengalami ini adalah seorang ibu yang membawa anak-anaknya, atau wanita hamil, atau seorang pria tua renta atau seorang lugu dari desa yang lebih mengedepankan sikap mengalah dari pada ribut-ribut menuntut hak.

Kepada semua pihak yang berhabitat di bandara Eltari Kupang, saya berterimakasih terutama kepada bapak petugas/manager maskapai penerbangan yg telah membantu saya (maaf saya tidak sempat tanya nama beliau) dan atas semangat pelayanan yang diberikan oleh maskapai penerbangan ini, juga untuk petugas keamanan yang sudah mencoba mengusir saya dari bandara (jika saja saya dapat mendebat beliau bahwa dengan tiket di tangan, saya justru lebih berhak berada di bandara), juga buat penjaga loket airpot tax, tanpa mereka semua pengalaman ini tidak akan pernah saya alami dan menjadi catatan khusus dalam hidup saya.

Banyak hikmah yang saya dapat ambil dari sana, namun untuk pihak-pihak yang berwenang di Bandara Eltari Kupang khususnya pihak PT. Angkasa Pura, dengan segala hormat saya katakan Bandara Eltari sudah sangat crowded dengan banyaknya penumpang dari berbagai maskapai penerbangan, portir yang hilir mudik, pengantar dan penjemput yang memadati pintu masuk/keluar terminal, supir taksi resmi maupun liar plus calo2 angkutan di tambah banyaknya personel keamanan dari bermacam2 instansi dengan seragamnya masing-masing.

Jika Bandara Eltari adalah beranda rumah bagi Ibukota Propinsi NTT, sungguh kesan semrawut, tidak teratur, tidak nyaman, tidak disiplin bukanlah suguhan pertama yang layak di terima tamu-tamu yg berkunjung ke Kupang.

Mungkin ada yang berbisik, sebaiknya membuat Bandara baru yang lebih dekat dengan kota, atau lokasi tersebut sudah harga mati. Jika demikian saya mempertanyakan luasnya ruang kosong yang digunakan oleh warung-warung konsesi dibandara, yah mereka semua berada disisi luar terminal, satu warung kopi saja dapat mengatur meja hingga tiga baris dengan 12-16 kursi atau sekitar 10-12 meter ruang digunakan, mengapa ruang terminal tidak diperluas dengan mengatur ulang penenempatan warung-warung atau toko-toko itu lebih kesisi luar dan memperluas terminal disisi dalam?. Jika membangun Bandara baru merupakan solusi yang sangat mungkin, kiranya sambil menunggu Bandara baru itu terwujud maka merapihkan dan membuat Bandara Eltari lebih nyaman dan lebih layak tentu bukanlah merupakan sebuah impian yang berlebihan? atau memang saya berlebihan?.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: